Health, People

Kamu perokok? 10 alasan ini mungkin menjadi alasan kamu merokok. Kamu nomor berapa?

Screenshot (68)

Apakah kalian pernah berpikir jika pemerintah dunia tidak pernah berniat membatasi penggunaan tembakau unutk menhasilkan rokok? Eits, jangan salah guys segala upaya telah lama dilakukan untuk memperkecil atau menurunkan penggunaan tembakau di dunia. Berbagai macam upaya dilakukan, dengan memakai tanda dilarang merokok, bahkan beberapa undang-undang negara bagian dan federal semakin membatasi di mana orang dapat merokok, dan pajak atas rokok dan produk tembakau lainnya lebih tinggi dari sebelumnya.

Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan Penelitian demi penelitian menunjukkan hubungan antara merokok dan sejumlah masalah kesehatan, termasuk penyakit jantung, penyakit paru-paru dan kanker: 1 dari 10 orang dewasa – lebih dari lima juta per tahun – meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan tembakau. Tapi tetap saja, orang terus merokok. Menurut American Heart Association, pada tahun 2008 diperkirakan 24,8 juta pria dan 21,1 juta wanita, masing-masing 23,1 persen dan 18,3 persen dari total populasi, adalah perokok. Dan terlepas dari semua bukti ilmiah bahaya kesehatan tembakau, dan dalam menghadapi iklan kesehatan masyarakat bernilai jutaan dolar, orang-orang yang tidak merokok dibujuk untuk mengambil risiko pertama yang dapat menyebabkan kecanduan seumur hidup.

Nah, guys dari penjelasan resiko diatas, mengapa orang terus merokok dan enggan untuk berhenti? Well, mari kita simak 10 alasan mengapa seseorang itu merokok.

  1. Pengaruh teman sebaya

Alasan yang ke-10 ini menunjukan jika pengaruh teman sebaya juga menyebabkan orang merokok, meskipun tentu saja ada pengaruh lain tetapi tekanan teman sebaya adalah salah satu yang terbesar. Pengaruh teman sebaya ini lebih berpengaruh kepada remaja yang bergaul dengan teman yang mempunyai kebiasaan merokok. Gimana guys, apakah kamu salah satu yang gampang terpengaruh?

  1. Imbalan Sosial

Guys, penghargaan social yang dimaksudkan adalah “hadiah” yang dirasakan orang ketika mereka berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Sebagai contoh, jika kamu berpatisipasi dalam kegiatan social, atau membantu sesama, sebagai penghargaan teman kamu memberikan rokok sebagai imbalan karena telah membantu. Dalam hal ini, pergaulan dengan .apenghargaan membagikan rokok adalah cara untuk memperat tali persahabatan. Singkatnya, hubungan itu akan terjalin ketika seorang perokok bertanya, “Ada rokok?” memberi perasaan penerimaan dan persahabatan.

  1. Tidak perduli

Hamper semua perokok aktif didunia sudah terbiasa dengan tanda-tanda dilarang merokok, area merokok yang ditunjuk dan pembatasan umum pada kemampuan mereka untuk merokok kapan dan di mana pun mereka mau. Tetapi aturan-aturan ini – hukum, fisik dan sosial – dapat menawarkan garis godaan untuk menyeberang bagi kaum muda yang cenderung berperilaku masah bodoh. Ya semakin dilarang semakin menjadi-jadi guys. Bagi mereka ada sensasi yang berbeda jika mereka melanggar aturan. Kecenderungan dan perasaan itu seringkali dialami oleh banyak remaja untuk melanggar aturan yang diberlakukan oleh sekolah, orang tua dan komunitas mereka, dan tidak heran bahwa banyak anak muda secara naluriah akan melakukan banyak hal yang seharunya tidak dilakukan.

  1. Pengaruh Orang Tua

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh orang tua yang merupakan perokok aktif juga mempunyai dampak besar terhadap anak. Anak-anak dari perokok aktif lebih cenderung untuk mulai merokok daripada anak-anak yang bukan perokok, atau anak-anak dari orang tua yang berhenti merokok. Menurut Faucher, ketika orang tua sudah menjadi seorang perokok aktif, maka anak-anak akan mempunyai keinginan untuk merasakan sebatang rokok, bahakn dorongan rasa penasran anak-anak akan lebih besar. Nah, para orang tua juga harus menjaga batasan di depan anak-anak yah!

  1. Keterangan yg salah

Di Amerika Serikat, iklan tembakau telah diawasi dengan peraturan yang sangat ketat dalam beberapa dekade terakhir. Tetapi pengaruh kebudayaan populer, efek yang ditimbulkan dari iklan dan kesalahan informasi yang sederhana masih berlimpah tentang tembakau dan merokok, maka orang-orang pun tetap memilih menjadi perokok aktif. Di beberapa negara maju, informasi yang salah tentang merokok berjalan sangat dalam dan bekerja secara langsung melawan upaya kesehatan masyarakat untuk mengekang perokok aktif.

Dilansir dari The Partnership at Drugfree.org Hal lain juga yang menyebabkan orang enggan untuk tidak meroko yaitu dipengaruhi adanya mitos kalangan perokok: bahwa rokok yang disebut “ringan” tidak lebih berbahaya daripada yang lain, atau bahwa merek rokok tertentu tidak sama bahayanya dengan merek lain. Sikap ini mungkin membuat mereka merokok lebih lama, karena mereka beralih ke rokok yang “lebih aman”, daripada berhenti, untuk menghindari konsekuensi kesehatan dari kecanduan mereka.

  1. Predisposisi Genetik

Sebagian besar bidang penelitian di bidang medis modern berfokus pada genetika,  dan hasilnya menyatakan bahwa dari alergi hingga kelainan darah dan jenis kanker tertentu, mutasi halus pada gen seseorang dapat berarti perbedaan antara penyakit dan kesehatan. Menurut Benowitz penelitian genetik juga menunjukkan bahwa kecanduan – termasuk kecanduan nikotin, bahan yang efektif dalam produk tembakau – mungkin memiliki komponen genetik. Wah, ternayata gen juga ikut andil dalam hal merokok ya guys. menurut kamu gimana?

  1. Iklan

Penelitian menunjukkan bahwa iklan rokok juga berperan menentukan jumlah orang yang mulai atau berhenti merokok. Sudah banyak negara, mulai memerangi penyakit yang berhubungan dengan merokok dengan membatasi iklan tembakau. Larangan 1975 tentang iklan tembakau di Norwegia, misalnya, membantu mengurangi prevalensi merokok jangka panjang di negara itu sebesar 9 persen (sumber: Willemsen). Dengan menonton iklan yang berkaitan dengan rokok, ternyata perokok juga bisa tergugah. Dalam hal ini mereka akan berpikir bahwa mereka akan merasa sangat keren jika merokok.

  1. Pengobatan diri

Banyak perokok yang sudah kecanduan, melaporkan sejumlah sensasi positif yang  mereka daptkan dari merokok. Mulai dari berkurangnya ketegangan atau nafsu makan hingga rasa kesejahteraan yang tinggi. Para peneliti melacak sensasi ini kembali ke banjir bahan kimia yang dilepaskan ke sistem saraf oleh nikotin. Sama seperti resep atau obat terlarang apa pun, itu mengubah kimia tubuh dan berfungsi ketika memasuki sistem.

Bagi sebagian orang, merokok pada dasarnya adalah cara mengobati diri sendiri untuk penyakit yang menyebabkan ketegangan dan rasa sakit. Pasien yang menderita beberapa bentuk penyakit mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan, dapat berhenti merokok karena dapat membantu mengurangi beberapa gejala mereka [sumber: Lillard].

Tetapi seperti halnya dengan banyak obat kuat, menggunakan nikotin untuk mengelola kondisi medis datang dengan sejumlah efek samping negatif. Di luar kecanduan, risiko penyakit paru-paru, kanker, penyakit jantung dan kematian dini berarti nikotin, sementara berpotensi efektif dalam mengobati beberapa gejala penyakit, benar-benar pedang bermata dua ketika digunakan untuk mengobati sendiri. Hati-hati ya guys!

  1. Pengaruh Media

Seperti halnya iklan, media dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan pemirsa. Kita hanya perlu melihat bagaimana gaya rambut atau mode pakaian dapat diluncurkan oleh satu film atau episode TV untuk melihat sejauh mana kekuatan ini di banyak bagian dunia.

Merokok di media dapat memiliki pengaruh yang sama dengan mode atau penampilan gadget yang trendi di tangan aktor. Penelitian telah menunjukkan bahwa ketika penonton, terlebih khusus anak muda melihat karakter utama merokok, mereka lebih cenderung melihat merokok sebagai sesuatu yang dapat diterima secara sosial, penuh gaya dan diinginkan.

  1. Penghilang stres

Bagi orang yang tidak menderita penyakit mental yang parah, rokok mungkin masih menjadi bentuk pengobatan diri. Selama beberapa dekade, para prajurit mengambil kebiasaan merokok di medan perang untuk menghadapi stres pada masa perang, misalnya. Banyak orang yang mengalami tingkat stres yang jauh lebih rendah – dalam pekerjaan tekanan tinggi, misalnya – mungkin mulai merokok sebagai cara untuk mengelola ketegangan dan saraf yang terkait dengan situasi tersebut.

Sayangnya, orang-orang ini mungkin menemukan bahwa mereka tidak dapat berhenti merokok setelah stress mereka teratasi. Rokok menjadi penopang psikologis – juga kimia – karena setiap situasi yang berpotensi membuat mereka secara naluria untuk merokok.

Nah, itulah ke-10 alasan mengapa seseorang merokok. Tapi ingat ya guys, pada dasarnya merokok itu tidak bagus untuk kesehatan. Akan ada begitu banyak resiko kesehatan yang akan diterima kalau kita tetap merokok.

Terimakasih. See u in next topic! (Hedy)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.